Taqy Malik Blak-Blakan Ingin Punya Belasan Anak Dengan Serrel Nadirah Karena Alasan Ini

Zonamakassar.com, Makassar – Pasangan Taqy Malik dan Sherel Thalib merasakan kebahagiaan usai resmi menikah pada 18 Oktober 2020 lalu. Taqy mengungkapkan kebahagiaannya dan mengaku tidak pernah menyangka akan diizinkan untuk kembali menikah oleh Tuhan.

Menikah lewat jalan taaruf, Taqy kini ingin merasakan masa-masa pacaran terlebih dahulu bersama istrinya. Mantan suami Salmafina Khairunnisa tersebut mengaku masih belum memikirkan soal momongan.

Namun demikian, apabila Tuhan berkehendak lain dan langsung memberikannya momongan, maka Taqy akan sangat bersyukur. Berarti, itu lah yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

“Sedikasihnya Allah saja, kami mau nikmatin masa berdua dulu,” tutur Taqy di Jakarta Selatan, dilansir detikcom pada Sabtu (31/10). “Tapi kalau langsung dikasih berarti itu rejeki dari Allah.”

Lebih lanjut, Taqy juga blak-blakan mengakui ingin memiliki banyak anak dengan Serrel. “Sebanyak-banyaknya lah, belasan mungkin,” ujar Taqy.

Hal tersebut dikarenakan oleh Taqy yang sangat mempercayai peribahasa “Banyak Anak Banyak Rezeki”. Ia pun berharap buah hatinya nantinya akan menjadi anak yang saleh.

“Sedikasihnya Allah saja, bagi saya banyak anak banyak rezeki dan bagi saya kalau banyak anak itu rumah suasana ramai,” terang Taqy. “Dan kita berharap setiap anak menjadi anak- anak yang saleh dan saleha, penerus bangsa. Kan kita enggak ada yang tahu.”

Sebelumnya, Sherel sudah sempat mengungkapkan alasannya mau menikah dengan Taqy lewat jalan taaruf. Rupanya, Sherel takut berdosa apabila menjalin hubungan sebelum menikah. Selebgram berusia 28 tahun tersebut juga merasa tak canggung lagi setelah resmi menjadi istri seorang hafiz Alquran.

“Aku awalnya ingin menikah cepat enggak mau lama-lama, karena takut jadi dosa,” ujar Sherel di kawasan Tendean, Jakarta Selatan dilansir Suara.com pada Jumat (30/10). “Enggak (canggung), aku itu deg-degannya pas akad aja. Kayak di luar dugaan, ternyata sekarang sudah jadi istrinya.”

Jokowi Kecam Pernyataan Presiden Perancis yang Dinilai Hina Islam

Zonamakassar.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo menyampaikan tanggapan atas kekerasan dan aksi teror yang terjadi di Perancis dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, Jokowi juga mengecam pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina umat Islam.

“Yang pertama, Indonesia mengecam keras terjadinya kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice, yang telah memakan korban jiwa,” ujar Jokowi dikutip dari tayangan konferensi pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (31/10/2020) sore.

Menurut Jokowi, pernyataan Macron dapat memecah belah persatuan antar-umat beragama di dunia.

Padahal, saat ini dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Jokowi melanjutkan, kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan.

“Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme,” tutur Jokowi.

“Teroris adalah teroris. Teroris tidak ada hubungannya dengan agama apa pun,” kata dia.

Terakhir, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama untuk membangun dunia yang lebih baik.

Dalam konferensi pers tersebut, Jokowi didampingi oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, para menteri, dan sejumlah perwakilan organisasi keagamaan.

Perwakilan yang hadir antara lain dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja imIndonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), dan Majelis Tinggi Agama Khong Hu Cu Indonesia (Matakin).

Sebelumnya, pernyataan Macron mengenai Islam juga telah memicu kemarahan bagi negara-negara mayoritas Muslim.

Macron menyatakan akan melawan segala bentuk “separatisme Islam” pasca-peristiwa pemenggalan seorang guru bernama Samuel Paty di luar Paris, awal Oktober.

Paty sebelumnya dibunuh karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada para muridnya di kelas tentang kebebasan berbicara.

Dalam dua bulan terakhir, terdapat sejumlah insiden berdarah setelah Charlie Hebdo menerbitkan kartun tersebut.

Pertama, penyerangan di dekat kantor Charlie Hebdo pada 24 September; serangan terhadap penjaga kemanan di kantor Konsulat Perancis di Jeddah, Arab Saudi; serta serangan yang menewaskan tiga orang di Nice, Kamis (29/10/2020).