Cara Lapor jika Belum Terima BLT Subsidi Gaji Rp1,2 Juta

Zonamakassar.com, Jakarta – Pekerja dengan upah di bawah Rp5 Juta sudah mulai menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dicairkan sejak November lalu. BLT sebesar Rp1,2 juta diperuntukkan bagi mereka yang terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Namun, ternyata hingga hari ini sejumlah pekerja masih ada yang belum menerima BLT tersebut. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah pun menyarankan supaya masyarakat yang merasa berhak mendapat BLT namun masih terkendala, segera melapor ke BPJS Ketenagakerjaan agar datanya dapat diperbaiki.

“Karena sumber datanya dari BPJS Ketenagakerjaan, sehingga penyelesaian data ini harus dikoordinasikan dengan mereka juga. Barulah nanti BPJS Ketenagakerjaan akan menyampaikan koreksi kepada Kemnaker,” papar Ida.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan pengaduan secara langsung juga dapat dilakukan melalui Sistem Informasi Pelaporan Peserta (SIPP) BPJS Ketenagakerjaan yang dapat diakses di Website BPJS Ketenagakerjaan.

“Sebagai contoh, saya kok harusnya dapat tapi gak dapat, tapi harus pastiin lagi saya ini sudah anggota (BPJS Ketenagakerjaan) apa bukan, ini juga bisa mengadu ke Kementerian Ketenagakerjaan melalui Sistem informasi ketenagakerjaan ada di webnya,” ujar dia.

“Karena sumber datanya dari BPJS Ketenagakerjaan, sehingga penyelesaian data ini harus dikoordinasikan dengan mereka juga. Barulah nanti BPJS Ketenagakerjaan akan menyampaikan koreksi kepada Kemnaker,” papar Ida.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan pengaduan secara langsung juga dapat dilakukan melalui Sistem Informasi Pelaporan Peserta (SIPP) BPJS Ketenagakerjaan yang dapat diakses di Website BPJS Ketenagakerjaan.

“Sebagai contoh, saya kok harusnya dapat tapi gak dapat, tapi harus pastiin lagi saya ini sudah anggota (BPJS Ketenagakerjaan) apa bukan, ini juga bisa mengadu ke Kementerian Ketenagakerjaan melalui Sistem informasi ketenagakerjaan ada di webnya,” ujar dia.

Eks Wakil Rektor UNM Sebut DILAN Tunjukkan Karakter Pemimpin Bugis-Makassar

Zonamakassar.com, Makassar — Akademisi dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Arifuddin Usman, memuji pelaksanaan Debat Publik Seri II Pilwalkot Makassar 2020 di Jakarta, Selasa (24/11) malam. Debat kali ini lebih menarik, dimana keempat paslon punya waktu lebih lama untuk saling sanggah dalam mengeksplorasi visi misi dan programnya.

Dari keempat paslon, Arifuddin berpendapat DILAN lebih unggul dari tiga rivalnya dalam aspek pendalaman program. Hal itu karena pasangan doktor dan dokter ini benar-benar memanfaatkan setiap waktu untuk memperkenalkan dan mengeksplorasi programnya, meski pada sesi tanggapan dari paslon lain.

“DILAN unggul dalam debat jilid II karena benar-benar mampu mengeksplorasi programnya. Bahkan, saat sesi tanggapan untuk rivalnya, DILAN terkadang mengkomparasikan programnya sebagai rujukan sehingga tentunya menjadi nilai positif untuk mereka. Inti dari debat itu adu gagasan dan program,” kata dia, Rabu (25/11).

Keunggulan DILAN, lanjut mantan Wakil Rektor III UNM itu juga tidak lepas dari penguasaan materi. Deng Ical-sapaan akrab Syamsu Rizal, maupun Dokter Fadli-panggilan karib Fadli Ananda, benar-benar menguasai seluruh materi terkait tema debat meliputi reformasi birokrasi, pelayanan publik, penataan kawasan perkotaan dan ekonomi.

“Ditambah lagi DILAN sangat kompak, saling melengkapi dan berbagi, ya ibarat dwitunggal. Makanya, terlihat mereka paling tenang dan cair,” ucap mantan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNM itu.

Lebih jauh, Arifuddin menyampaikan ada momen menarik yang dapat menjadi catatan publik dalam debat jilid II. Yang dimaksudnya adalah tatkala Calon Wali Kota Makassar nomor urut 1, Danny Pomanto (DP), mencoba memprovokasi Deng Ical, yang memvonis kader Muhammadiyah itu gagal saat menjabat Plt Wali Kota Makassar.

Deng Ical ternyata sama sekali tidak terprovokasi. Ia malah melontarkan statement yang secara telak menjadi ‘tamparan’ bagi mantan Wali Kota Makassar itu. Deng Ical menganalogikan DP sebagai pemimpin yang suka ‘cuci tangan’ dan jauh dari karakter pemimpin Bugis-Makassar.

“Itu sangat menarik dan memang tepat, bahwa tipikal pemimpin Bugis Makassar itu bertanggung jawab, tidak malah mencari-cari kesalahan orang. Debat semalam sudah menunjukkan karakter Deng Ical maupun DILAN sebagai pemimpin Bugis Makassar yang cerdas dan berani,” tutup dia. (**)

Pengamat : Debat Publik Pilwali Makassar di Nilai Belum Adu Gagasan

Zonamakassar.com, Makassar – Empat pasangan calon (paslon) wali kota-wakil wali Kota Makassar 2020 dinilai belum saling adu gagasan untuk membujuk pemilih pada debat kedua malam tadi. Mereka dianggap lebih banyak saling menjatuhkan dan mencari kesalahan di masa lalu.

“Saya khawatir, ini para kandidat lupa bahwa debat kandidat itu kan gunanya adalah sebagai tempat komunikasi efektif kepada calon pemilih, dengan (pemilih) langsung membandingkan keempatnya,” ujar pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma dikutip detikcom, Rabu (25/11/2020).

Padahal, debat kandidat Paslon Pilwalkot Makassar semestinya difokuskan untuk mengadu gagasan dan visi-misi dalam menyelesaikan persoalan Makassar. Para paslon kemudian dapat memaparkan keunggulan gagasannya dibanding paslon lainnya.

“Nah tadi malam (saat debat) memang saya lihat terjebak dalam situasi yang saling menyalahkan, saling mencari kelemahan, dan seterusnya. Saya hanya menangkap bahwa debat tadi malam itu hanya menjadi ajang untuk men-downgrade, atau mengurangi, atau memberikan image yang kurang baik terhadap kandidat lain dengan menyerang,” katanya.

Menurut Sukri, menjelang hari pencoblosan Pilwalkot Makassar, yang dibutuhkan masyarakat ialah paparan visi-misi dan gagasan yang lebih meyakinkan, sehingga mereka terbujuk untuk memilih paslon dan mendatangi TPS saat pencoblosan nanti.

“Yang diinginkan adalah masyarakat dapat membandingkan, misalnya, contoh terkait reformasi birokrasi, ada paslon bilang kami mau menyelesaikan dengan cara ini, yang lain akan bilang, oke kami justru dengan cara ini,” ungkapnya.

“Tapi ini tidak, justru saling menyalahkan, dulu bagaimana, sekarang bagaimana, yang ini punya SK bagaimana, dan seterusnya. Ini kan tidak menunjukkan sesuatu (yang membujuk). Jadi masyarakat yang melihat mereka tidak dapat apa-apa, dari apa yang mestinya mereka sampaikan,” lanjutnya.

“Saya khawatir, ini para kandidat lupa bahwa debat kandidat itu kan gunanya adalah sebagai tempat komunikasi efektif kepada calon pemilih, dengan (pemilih) langsung membandingkan keempatnya,” ujar pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma, Rabu (25/11/2020).

Dari keseluruhan jalannya debat, Sukri menilai hanya di tema terkait ekonomi para paslon dapat mengadu gagasan dengan cukup baik. Selebihnya, mereka dinilai hanya memaparkan sedikit soal visi-misi dan saling menjatuhkan.

“Kalau kita melihat, sebenarnya apa yang disampaikan oleh keempat pasangan kurang lebih sama, semuanya kan saling mengaminkan, bahwa itu memang betul, bahwa itu yang harus dilakukan, dan seterusnya. Tapi yang ditunggu masyarakat adalah tawaran yang solutif, tawaran yang inovatif, yang kira-kira nanti kalau mereka terpilih, kalau mereka mendapatkan kesempatan menjadi pasangan wali kota-wakil wali kota itu ada sesuatu yang langsung dirasakan masyarakat secara substansial,” jelasnya.

Para paslon Pilwalkot Makassar pada malam tadi dinilai memaparkan visi-misi dan gagasan yang seluruhnya hampir sama, tapi membahasakannya dengan bahasa politik yang berbeda.

“Semua sepakat tentang e-governance, sepakat tentang digitalisasi, semuanya sepakat tentang transparansi dengan memanfaatkan sistem komputerisasi dengan sistem IT misalnya. Terus perbedaannya di mana? Nah komunikasi yang ini yang mestinya didapat oleh masyarakat,” imbuhnya.

Karena lebih banyak fokus saling menjatuhkan, baik Danny-Fatma, Appi-Rahman, Deng Ical-dr Fadli, dan None-Zunnun, keempatnya belum mampu membujuk pemilih yang belum menentukan pilihan.

“Mereka mencoba menyerang lawan dengan harapan masyarakat melihat sisi jeleknya, sisi yang kurang baik, dan seterusnya. Jadi secara psikologi akan mempengaruhi pemilih untuk beralih, tapi siapa yang mau beralih (pilihannya) dengan melihat seperti itu?,” tuturnya.

“Tadi malam kita tidak melihat hal yang inovatif, hal yang lebih praktis yang bisa dipilih masyarakat. Belum berhasil membujuk, selain itu tadi, mereka hanya mencoba memanfaatkan aspek psikologi politik dengan mencoba men-downgrade, menyerang sisi kelemahan lawan,” pungkasnya.