Mungkinkah PAN “Tanpa” Amien Rais?

0
14
Oleh: Hadisaputra
Staf Pengajar Sosiologi Unismuh Makassar

Zonamakassar.com, Makassar – Kongres PAN di Kendari, 10-12 Februari 2020, kembali menetapkan Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum PAN periode 2020-2025. Pertanyaan yang menyeruak di benak publik, apa makna kemenangan Zulkifli Hasan, dan bagaimana masa depan PAN “tanpa” Amien Rais.
Kata ‘tanpa’ harus segera diberi tanda petik, karena hingga artikel ini ditulis, Amien Rais belum menyatakan sikap pasca jagoannya, Mulfachri Harahap, tumbang dalam Kongres. Zulkifli dalam pidato kemenangannya pun, hanya menyinggung Hatta Rajasa yang diminta menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP), belum menyinggung nasib sang pendiri partai dalam kepengurusan PAN mendatang.
Kemenangan Zulkifli
Kemenangan Zulkifli mendapat respon yang beragam dari publik. Ada yang berpandangan, kemenangannya merupakan wujud intervensi istana. Sebelum Kongres Kendari, kubu Mulfachri yang didukung Amien Rais telah menegaskan, jika mereka menang, PAN akan tetap berada di barisan oposisi. Mereka memutuskan akan menjadi mitra kritis Pemerintah.
Sebaliknya, meski kubu Zulkifli tak pernah menunjukkan pandangan tegas akan berlabuh ke Koalisi Jokowi, sinyal menuju ke sana bukan isapan jempol. Misalnya, belakangan Zulkifli didukung oleh gerbong PAN pendukung Jokowi. Sebutlah, bergabungnya mantan Menteri Jokowi, Asman Abnur, yang didukung Hatta Rajasa dan Bima Arya. Namun, kebenaran asumsi ini, masih menunggu sikap yang akan diambil Zulkifli Hasan dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, kemenangan Zulkifli juga dapat dimaknai sebagai ‘loncatan’ PAN untuk keluar dari bayang-bayang ketokohan Amien Rais. Jika demikian, apakah Amien Rais gagal mempertahankan ketokohan? Justru saya berpandangan, Amien Rais telah berhasil menginstitusionalisasikan demokrasi dalam tubuh partainya. Amien ibarat guru yang berhasil mendidik murid-muridnya tentang makna demokrasi.
Sejak Kongres II hingga V, Amien selalu menyuarakan tradisi Ketua Umum PAN hanya satu periode. Amien juga selalu mencontohkan proses demokratisasi dalam tubuh partainya. Nuansa egalitarianisme yang merupakan nilai inheren dalam demokrasi, membuat Amien tak kaget ‘dilawan’ murid-muridnya sendiri.
Pada Kongres III, titah Amien tak sepenuhnya diikuti. Dalam Kongres IV di Bali, gerbong Amien Rais hampir kalah. Malah dalam Kongres Kendari, Zulkifli Hasan, Hatta Rajasa dan Soetrisno Bachir bersatu dan ‘melawan’ sang guru. Sang guru berhasil dikalahkan. Tapi bukankah itu bukti, bahwa sang guru telah berhasil. Ia telah mencetak murid yang lebih hebat dari dirinya.
Mungkin dalam model mendidik murid berpolitik dan berdemokrasi, Amien meminjam strategi Gus Dur di PKB. Gus Dur telah berhasil menghasilkan tokoh seperti Matori Abdul Jalil dan Muhaimin Iskandar. PKB sekarang mampu melampaui bayang-bayang Gus Dur. Mereka telah membangun institusi partai modern, yang mengandalkan sistem dan kekuatan kolektif fungsionarisnya.
Masa Depan PAN
Lalu bagaimana masa depan PAN tanpa Amien Rais? Ada yang pesimis, ada yang optimis. Kelompok pesimis menganggap Mantan Ketua MPR ini masih merupakan magnet elektoral bagi PAN. Mungkin Amien tak lagi berpengaruh di kalangan fungsionaris PAN, namun ia masih memiliki banyak pengikut di akar rumput. Segmen pemilih dari kalangan Muhammadiyah, misalnya, sebagian besar mendukung PAN karena sosok Amien. Bagi kelompok pesimis ini, tanpa Amien Rais, PAN sedang menyiapkan kuburannya di Pemilu 2024.
Bagi yang berpandangan optimistik, inilah kesempatan bagi PAN untuk bertransformasi menjadi partai modern. Partai yang berpijak pada mekanisme, dan kekuatan kolektif. Memenangkan Pemilu, bukan karena kharisma tokoh, melainkan kinerja para aktivis partai yang duduk di eksekutif maupun legislatif.
Dalam merumuskan masa depan sebuah organisasi, setidaknya mesti menimbang tiga hal. Pertama, tujuan pendirian organisasi sebagaimana dirumuskan para founding fathers. Kedua, keinginan para pengurus/ anggota organisasi saat ini. Ketiga, perkembangan tren isu zaman.
Dalam konteks partai politik, juga demikian. Partai tetap harus merujuk pada cita-cita para pendiri partai. Namun sebagai partai modern, yang dirujuk adalah pelembagaan cita-cita pendiri partai melalui konstitusi partai, sebagaimana tercermin dalam Platform, AD/ART atau pedoman organisasi lainnya.
Misalnya, keinginan Amien Rais membangun tradisi Ketua Umum PAN satu periode, seharusnya dituangkan dalam AD/ART partai. Bukan nanti diumumkan ke khalayak jelang Kongres. Kesannya, yang terjadi adalah fenomena ‘like and dislike’, bukan menegakkan platform partai.
Sebagai partai modern, partai juga harus dikelola sebagai milik bersama seluruh fungsionaris partai. Semua pengurus dan anggota memiliki saham dalam membesarkan partai. Oleh karena itu, harapan arus bawah juga harus didengar. Mekanisme penyaluran aspirasi arus bawah, seharusnya juga menjadi putusan Kongres. Sebagai contoh, bagaimana mekanisme penjaringan kepala daerah, yang selama ini cenderung didominasi DPP. Mekanisme partai seharusnya posisinya lebih tinggi dari titah Ketua Partai.
Partai juga tak boleh buta dan tuli dengan perkembangan zaman. Misalnya, di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, partai dapat lebih mudah menjangkau aspirasi konstituen secara digital. Isu yang digulirkan Asman Abnur dalam visi pencalonannya, tentang maksimalisasi E-Parpol, layak dipertimbangkan PAN.
Jadi bagaimana masa depan PAN ‘tanpa’ Amien Rais? Jika melembagakan cita-cita founding father, harapan pengurus di akar rumput, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, saya berpandangan ‘PAN punya masa depan cerah’. Bagaimana dengan Anda? (*)
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.