Prof Marsuki: Pemindahan Ibukota, Pengusaha Sulsel Bidik Kaltim

0
75
Zonamakassar.com, Makassar — Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) akan menggerakkan ekonomi. Pengusaha asal Sulsel pun segera berinvestasi di Kaltim. Sejumlah sektor akan terkerek naik di Kalimantan Timur. Mulai dari konstruksi, logistik bangunan, industri aneka jenis, hingga restoran, hotel, dan pariwisata.
Pakar ekonomi Prof Marsuki DEA mengatakan, pemindahan ibu kota akan berimplikasi positif terhadap pulau di sekitarnya. Khususnya Sulsel. Kondisi ini, harus dilihat baik-baik. Karena itu, baik pemerintah maupun kalangan swasta, harus berupaya menjadi mitra bagi ibu kota.
Khususnya, dalam proses pembangunan: jangka pendek, menengah, maupun panjang. “Pemindahan ini sangat positif untuk Sulsel ke depan,” kata Marsuki yang juga Rektor Institut Bisnis dan Keuangan Nitro Makassar ini, Selasa, 27 Agustus.

Prof.Dr.H Marsuki, DEA.,Ph.D

Migrasi Massal
Apabila pemerintah dan swasta mampu menjadi mitra, maka Sulsel, bisa menjadi daerah penyedia lapangan kerja, kebutuhan bahan bangunan fisik, serta penyangga persediaan bahan makanan. Juga, hiburan, dan tempat tinggal yang cukup lengkap.
“Dalam jangka pendek saja, kalau telah (pemindahan) terealisasi (disetujui DPR) akan berefek terhadap beberapa indikator makro ekonomi Sulsel,” urainya.
Indikator makro yang dimaksud adalah bisa membuat pertumbuhan ekonomi Sulsel lebih terdongkrak. Penurunan pengangguran, kemiskinan, termasuk perbaikan kualitas hidup masyarakat secara umum.
Akan tetapi, dari sisi positif itu, efek negatif juga diprediksi tetap ada. Tidak bisa dihindari. Misalnya saja, terjadinya migrasi penduduk dari Sulsel ke provinsi lainnya secara massal.
Sebab, ibu kota baru bisa menjadi bagian penampungan tenaga kerja, yang tidak terkontrol. “Kalau itu terjadi, justru meningkatkan pengangguran dan peningkatan penduduk miskin,” paparnya.
Karena itu, ia berharap pemangku kepentingan sejak dini mengantisipasi dampak negatif yang akan berpotensi muncul ini. “Jangan menunggu ada persoalan, baru dipikirkan. Belajar dari kondisi di DKI Jakarta saat ini,” tutupnya.
Volume Dagang
Ekonom Unhas, Syarkawi Rauf, menilai kala ibu kota pindah ke Kaltim, secara ekonomi akan mendorong pertumbuhan di Sulsel. “Karena Kaltim dan Sulsel itu punya hubungan dagang yang kuat. Kalau pindah, volume perdagangan pun bakal ikut naik,” katanya.
Hanya saja, menurutnya, tetap perlu dilihat secara komprehensif. Artinya, dalam kondisi pemindahan ini yang pindah adalah pusat pemerintahan. Bukan pusat bisnisnya.
Ia melihat pusat bisnis yang sejauh ini ada di Jakarta, tidak serta merta akan langsung ikut pindah. Berkaca dengan negara lain, yakni Korsel yang memindah ibu kotanya ke pinggiran Seoul.
“Di sana masih sepi khusus pemerintahan saja. Pusat bisnis tetap di Seoul,” paparnya.
Dalam hal ini, perlu waktu untuk mengikuti ke mana pusat pemerintahan berada nantinya. Karena pada prinsipnya, pusat bisnis akan selalu ikut kemana pun pusat pemerintahan.
“Ya, meskipun pusat pemerintahan selalu jadi daya tarik untuk mendongkrak bisnis,” kuncinya.
Prospek Bisnis
Sementara itu, Sekretaris Apindo Sulsel, Yusran IB Hernald melihat pemindahan ibu kota negara menjadi pendorong bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya ke wilayah itu.
Tidak heran, para pelaku usaha mulai mengintip celah potensi investasi di daerah itu. “Teman-teman mulai mengarahkan perbincangan apa yang bisa jadi bidikan ke sana,” bebernya.
Pada tahapannya, pembangunan sarana dan prasarana pendukung pemerintahan bisa menjadi salah satu corong pelaku usaha bisa masuk untuk mengerjakan konstruksinya. “Makanya semoga jangan hanya BUMN yang dilibatkan. Swasta juga perlu,” harapnya.
Seperti segi Infrastruktur pendukung, yakni transportasi yang diharapkannya. Meski pemerintah mengadakan transportasi umum, ruang bagi swasta untuk masuk harus ada.
“Sebab transportasi umum tidak bisa 24 jam, kalau swasta bisa berinovasi dengan menghadirkan pelayanan prima,” terangnya. Sejauh ini, komoditas seperti beras dan buah-buahan dari Sulsel sudah banyak yang ke Kaltim. Hal itu terjadi sebelum menjadi ibu kota negara yang baru. Usai ditetapkan, bisa dipastikan pengiriman barang juga akan meningkat.
Selain itu, beberapa sektor yang mulai dilirik pengusaha dari Sulsel adalah bersinergi untuk membangun kebutuhan energi. Seperti listrik.
Mengapa? Ke depan, di daerah itu pastinya akan membutuhkan pasokan energi listrik yang tidak sedikit saat telah menjadi pusat pemerintahan.
“Sektor mikro juga menggeliat di sana. Khususnya bisnis kuliner. Karena di sana ke depannya makin ramai, jadi menarik membuat bisnis sektor tersebut,” pungkasnya.
Hotel-Hiburan
Para pelaku usaha restoran dan hotel juga mulai mencari ruang investasi. Menurut, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, banyak ruang investasi di sektor perhotelan.
Kehadiran hotel juga menjadi syarat untuk ibu kota itu sendiri. Makanya investasi sudah dimulai. Sebab, pada 2024 resmi dipindahkan.
“Kami di sektor perhotelan sudah memperkirakan kapan momen masuk yang pas. Soal potensi, saya yakin akan banyak yang melirik ke sana (bangun hotel),” yakinnya.
Bagaimana dengan ekspansi? Pria yang juga CEO Phinisi Hospitality Indonesia (PHI) itu mengaku belum membahas langkah tersebut.”Pastinya jadi pertimbangan. Yang jelas, Kaltim itu punya prospek bagus untuk bangun hotel,” nilainya.
Tantangan ASN
Bagaimana dengan ASN yang menolak ke ibu kota baru? Menteri PAN-RB, Syafrudin mengklaim ASN tidak khawatir untuk pindah dari Jakarta ke Kalimantan.
“ASN dan aparatur negara apapun, terutama aparatur hukum, TNI, Polri, dan sipil negara, itu sudah kontrak dengan negaranya,” terangnya di kantor Wapres, kemarin. “Yang dipindah itu ASN di lembaga dan kementerian. Bukan yang bertugas di DKI (Jakarta),” sambung mantan Wakapolri itu. (jpg-tam)
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.