Ubah Sampah Plastik dan Eceng Gondok Jadi Produk Bernilai Guna

Zonamakassar.com, Makassar — Material plastik termasuk kategori bahan bangunan ringan. Memiliki sifat umum, seperti; tidak mudah pecah, tidak korosi, tahan terhadap cuaca, dan kuat.

Di Makassar, sampah plastik mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar (2017) menyebutkan bahwa sampah perkotaan sekitar 1000 – 1200 ton setiap harinya dan 9.23 persen adalah sampah plastik.

Artinya, 110.76 ton/hari sampah plastik menumpuk setiap harinya tanpa penanganan dan pengelolaan yang jelas. Kondisi ini merupakan peluang besar untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi produk berupa “paket teknologi” yang memiliki nilai jual.

Inilah yang dimanfaatkan Dr Juhana Said dari Teknik Arsitek UMI, ia menjelaskan bagaimana ia beserta dua orang rekannya Dr Sungkono dari Teknik Mesin UMI dan Nashrah Teknik Arsitek UMI. Mereka membuat riset dan inovasi terkait sampah plastik.

Ditemui di Redaksi Harian FAJAR, Rabu (11/9/2019) Dr Juhana mengatakan, mereka mengolah sampah plastik tersebut menjadi lembaran yang berukuran 50×50 cm dengan tebal 1 cm.

Hasilnya dapat digunakan sebagai bahan alternatif dinding. Bahan dinding plastik ini dibuat dalam dua jenis bentuk, yaitu licin/halus dan bertekstur.

“Bahan utamanya adalah limbah eceng gondok dan sampah plastik keras bekas wadah bedak maupun handbodi,” ucapnya.

Mereka melakukan Pembuatan Panel Plastik Bertulang sebagai bahan dinding alternatif hemat energi pada komunitas bank Sampah Antang. Hal ini juga merupakan program Laporan Kemajuan Hibah Dikti. (wis)

Kontribusi Gaya Hidup Kekinian Terhadap Peningkatan Sampah

Ilustrasi: Dengan memggunakan tas kain dapat mengurasi sampah kantong plastik

ZonaMakassar.Com. Makassar – Tanpa disadari, perilaku kita telah menghasilkan “gunungan” sampah di rumah. Salah satu penyebabnya boleh jadi adalah gaya hidup konsumtif, seperti belanja busana fast fashion, memesan makanan via ojek daring, atau membeli kosmetik di toko daring yang belakangan ini menjadi bagian dari keseharian kita.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 yang diolah Lokadata mencatat ada 22,8 ribu ton sampah rumah tangga di 30 kota besar di Indonesia dalam setahun. Jumlah tersebut dapat bertambah bila kita tidak mengubah gaya hidup.

Dampaknya tak hanya sampah menumpuk, juga mencemari lingkungan (tanah, air, dan udara) yang dapat berakibat merugikan generasi selanjutnya.

Dimulai dari diri sendiri, Anda bisa berkontribusi besar dalam menekan jumlah sampah dengan mengaplikasikan prinsip 3R atau reuse, reduce, dan recycle.

Pertama, pilah sampah. Sampah makanan adalah salah satu masalah terbesar di tempat pembuangan sampah (TPS). Tak hanya di TPS, tapi di tempat sampah di rumah pun demikian. Ketika sampah makanan, mereka akan memproduksi gas metana atau gas rumah kaca yang menyebabkan temperatur bumi meningkat.

Untuk menghindarinya, kita bisa memilah sampah menjadi tiga kategori. Siapkan tiga tempat sampah untuk sampah anorganik (plastik, kaleng), sampah organik (sisa makanan, tisu, kertas), dan bahan berbahaya (elektronik, baterai, oli, peralatan mandi, dan parfum).

Khusus sampah organik, kita dapat membuatnya secara sederhana dan hasilnya dijadikan pupuk tanaman. Misalnya dengan teknik pengomposan Takakura.

Takakura merupakan salah satu sistem pengolahan sampah organik yang menggunakan keranjang plastik berlubang. Untuk membuat kompos ala Takakura, sediakan keranjang Takakura (yang banyak dijual di toko daring) atau keranjang cucian berventilasi, kardus bekas, gabah sekam, kompos jadi, dan sampah organik (sisa sayur, daun kering, dan kulit buah potong menjadi bagian yang kecil untuk mempermudah proses pengomposan).

Siapkan keranjang, lalu lapisi keranjang bagian dalam dengan kardus. Kemudian isi dengan bantal sekam, kompos jadi, sampah organik, dan bantal sekam. Sebelum menutup keranjang, lapisi tutup dengan kain berpori. Proses selanjutnya, kita aduk isi keranjang setiap hari dan tunggu proses pembusukan selama tiga-empat hari. Hasilnya, kita bisa menggunakannya untuk media tanam.

Kedua, gunakan barang ramah lingkungan. Saat ini, barang atau produk ramah lingkungan banyak dijual di sekitar kita. Mulai dari perlengkapan mandi, tempat makan, sedotan, hingga busana.

Produksi (dan efek yang ditimbulkan setelah digunakan) barang-barang tersebut lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan barang reguler.

Dalam praktiknya, kita bisa minum tanpa sedotan atau menggunakan sedotan stainless steel yang bisa digunakan berkali-kali. Sedangkan untuk urusan pembersih di rumah, Anda dapat membuat detergen atau cairan pembersih lantai dari bahan-bahan yang ada (cuka, jeruk lemon, air atau baking soda, minyak kayu putih, dan air).

Ketiga, minimalisasi plastik. Jika memiliki tas (plastik, kain spunbond) hasil dari belanja, sebaiknya simpan dan manfaatkan untuk hal lain. Kita dapat menggunakannya sebagai wadah belanja berikutnya atau tempat sampah.

Usahakan untuk membawa kontainer makan, tumbler, dan tas kain ke manapun Anda pergi. Langkah kecil ini bisa sangat berdampak untuk mengurangi penggunaan plastik dalam keseharian.

Bayangkan, jika semua orang di kantor Anda melakukan hal demikian, berapa banyak sampah plastik yang bisa dikurangi. Itu baru di satu kantor. Jika menular ke kantor atau komunitas lain, pasti akan lebih besar lagi dampaknya.

Bukan tidak mungkin predikat Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia bisa dicopot jika kebiasaan tersebut bisa dilakukan secara konsisten.

Keempat, beli barang sustainable (berkelanjutan). Produk sustainable untuk kebutuhan sehari-hari di antaranya sabun, sampo, detergen, hingga bumbu-bumbu dasar dan bahan makanan pokok.

Penggunaan produk sustainable juga berlaku dalam konsumsi listrik di rumah. Pilih lampu LED atau bohlam CFL yang tahan lama daripada lampu pijar. Jangan lupa untuk mematikan lampu atau barang elektronik ketika malam atau tidak digunakan.

Tak ada salahnya mengubah gaya hidup untuk hidup lingkungan yang bersih dan rumah minim sampah.(*)