Harga Bawang Putih Naik, Disdag Makassar Minta Bulog Lakukan Operasi Pasar

ZonaMakassar.com – Kenaikkan harga bawang putih di pasar tradisional menjadi perhatian Dinas Perdagangan (Disdag) Makassar dengan melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke sejumlah distributor bawang putih dan juga pasar tradisional di kota Makassar, Senin (6/5/2019).

Kepala Disdag Makassar Nielma Palamba mengatakan sidak yang dilakukan menyusul meroketnya harga bawang putih di hari pertama ramadan, yakni Rp 42 per kilogram dari distributor, Rp 52 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram ditingkat pengecer, bahkan pasar modern menjual bawang putih dengan harga Rp 67 ribu per kilogram.

“Ini fenomena saat bulan ramadan, permintaan dari masyarakat naik, masyarakat cenderung menjadi panic buyer,” ungkapnya.

Hasil dari sidak tersebut, membuat Disdag Makassar meminta Bulog untuk melakukan pembelian bawang putih ke distributor agar dapat melakukan intervensi pasar.

“Jadi saya berkoordinasi dengan bulog, bulog akan membeli karena kita tidak punya anggaran untuk itu, bulog nantinya akan intervensi pasar menggunakan truk pengendali inflasi dari kami,” ucap Nielma.

Gelar Pelatihan Kerajinan, Disdag Makassar Ingin Eceng Gondo Bisa Bernilai Ekonomi

ZonaMakassar.com – Dinas Perdagangan (Disdag) Makassar bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) Makassar ingin mengubah eceng gondok memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Makassar. Untuk itu, Disdag Makassar menggelar pelatihan kepada warga untuk menjadikan eceng gondok sebagai kerajinan di Hotel Ramedo, Selasa (19/2/2019).

Kepala Disdag Makassar, Nielma Palamba mengaku pelatihan keratin an dilakukan untuk memberdayakan masyarakat melalui kerja produktif dengan memanfaatkan tanaman yang kerap dianggap limbah ini. Dia menyebut, pelatihan ini sudah memasuki tahun kelima. Angkatan sebelumnya, kata Nielma, sudah berproduksi sendiri.

”Potensi eceng gondok punya potensi besar dijadikan kerajinan. Ini sudah tahun kelima,” ungkap Nielma Palamba.

Ia mengaku eceng gondok bisa diolah menjadi tas tempat tisu, kursi, dan souvenir lainnya,” ungkapnya.

Meski kerajinan eceng gondok mulai menggeliat proses produksi dan juga mulai dipasarkan, Nielma Palamba mengaku masih banyak yang perlu disempurnakan.

“Tentu kualitasnya, dan packaging-nya. Juga bentuk kerajinannya mungkin bisa yang unik dan fungsional, dan pastinya berciri khas Kota Makassar,” ujarnya.

Dia menyebut, bahan baku kerajinan ini juga turut menentukan kualitas kerajinan. Meskipun mudah ditemukan di sejumlah wilayah kanal, eceng gondok yang berada di Sungai Jeneberang yang memenuhi kualifikasi.

“Tidak sembarang eceng gondok bisa dipakai, harus yang besar dan panjangnya minimal 60 cm. Berdasarkan keterangan pengrajin, yang paling bagus itu di Jeneberang,” pungkasnya.