Ini Pertimbangan terakhir Prabowo kenapa dia terima jadi Menteri Jokowi!

Zonamakassar.com. Beberapa kali maju sebagai capres maupun sebagai cawapres sedikit banyak mempengaruhi perasaan yang begitu mendalam dari sebuah perjalanan karir politik, Prabowo Subianto (PS) setelah berkali kali dia mencoba peruntungan menuju RI1 maupun RI2 namun gagal.

Ada trauma atau kejenuhan dan batas akhir tingkat kepercayaan yang dimiliki oleh setiap orang ketika perjalanan karir politik seolah mentok itulah yang dirasakan oleh PS didalam menapaki tangga karir politik setelah dipecat dari dinas kemiliterannya. Hal itu lumrah terjadi pada manusia yang normal, ini soal faktor x keputusan sang ilahi, “ujar pengamat politik Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen kepada wartawan di Jakarta (4/1).

Bukan PS tak berusaha namun kenyataannya memang belum berhasil, itulah sebuah pelajaran berharga yang dirasakan oleh setiap orang ketika perjalanan menuju puncak karirnya mentok, bicara daya tahan tubuh manusia ada batasnya. Bila tak kuat bisa stress ringan atau stroke ringan dll, “imbuhnya.

Tawaran menteri yang menghampiri PS sebagai obat sekaligus kompromi politik diberikan Presiden Jokowi kepada Prabowo sedikit banyak dapat mengobati rasa kepedihan akibat kekalahan yang berulang kali dia rasakan, jadi setiap keputusan pasti ada konsekuensinya, termasuk keputusan Prabowo menerima ajakan Jokowi menjadi pembantunya, “jelas Silaen.

Setiap orang bisa berpangkat jenderal tapi tidak semua jenderal bisa jadi panglima, kecuali sebuah garis tangan seseorang, mungkin itu jugalah pertimbangan terakhir Prabowo dan nasehat keluarga serta rekan sejawatnya, kenapa dia mau jadi Menteri. Prabowo tahu akibatnya ketika dia menerima jadi menteri, dihujat dan dilecehkan oleh pendukungnya yang selama ini mendukung Prabowo, “jelas mantan pengurus DPP KNPI itu.

Pertarungan politik antara strategi dan takdir illahi itu lumrah, semua orang bisa sama- sama berjuang, tapi tidak lantas semua orang jadi pemenang secara bersamaan, dalam kompetisi ada kalah dan menang. Sejauh ini pamor Prabowo berada dititik terendah dimata para pendukung fanatiknya. Yang jelas sekarang pendukung Jokowilah yang berubah menjadi pendukung Prabowo ada sekitar 10- 20%, “tebak Silaen.

Selebihnya pendukung Jokowi masih wait and see tentu banyak faktor yang mempengaruhi kenapa wait and see karena menunggu keputusan partai politik yang jadi pengusung Jokowi maju sebagai capres. Ini bagian dari loyalitas ke partai, “tutur Silaen.

Silaen melihat pertarungan politik kontestasi 2024 akan terjadi head to head antara capres militer dan pengusaha atau keduanya nge- blended (perpaduan), militer non militer sebenarnya tidak terlalu masalah. Selanjutnya bicara kekuatan kapital yang akan menjadi faktor penentu, siapa yang akan maju atau didukung oleh partai politik, “terawang mata batinnya.

Pertanyaan publik sederhana apakah Ketum Gerindra Prabowo Subianto akan kembali maju atau tidak? Persoalan ini akan dijawab oleh Prabowo the last minute, tentu akan banyak yang jadi pertimbangannya ketika dia akan kembali maju sebagai capres, “ungkap Silaen.

PS kalau maju lagi berpikir keras agar tidak kembali kalah, kalau sampai kalah lagi, ini namanya gol bunuh diri sekaligus mimpi buruk yang panjang buat Menhan, perlu diketahui bahwa ‘musuh’ terbesar Prabowo sekarang adalah pendukungnya sendiri yang merasa kecewa berat atas sikap politiknya setelah masuk kedalam kabinet rivalnya, “pungkasnya.

Kabinet Jokowi-Ma’ruf Tahap Final, Mantan Gubernur Masuk?

Zonamakassar.com, Makassar. – Penyusunan kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin sudah masuk dalam tahap finalisasi. Keputusan final ada di tangan Presiden Jokowi dan para ketua umum partai koalisi. Mereka akan segera bertemu untuk memutuskan siapa saja yang akan menduduki jabatan menteri.
Nah, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai sejumlah mantan kepala daerah begitu potensial menjadi menteri di kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. “Sangat potensial menjadi pembantu Presiden Jokowi. Apalagi mereka punya pengalaman panjang di birokrasi,” kata Adi, kemarin,
Sejumlah mantan kepala daerah itu, khususnya mantan gubernur, selain karena prestasinya, juga memiliki kecakapan menghadapi dinamika politik sehingga bisa menjadi bekal ketika memimpin kementerian.
Adi yang merupakan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu menjelaskan, kemampuan menghadapi dinamika politik itu diperlukan, misalnya ketika proses kebijakan kementerian melalui proses di DPR yang dinilainya tidak mudah.
“Namun tentu saja Presiden Jokowi jangan asal memilih mantan gubernur, harus yang memiliki kompetensi dan integritas sehingga bisa menopang kinerja Jokowi lima tahun mendatang,” katanya.
Saat ditanya siapa saja mantan kepala daerah yang potensial masuk di kabinet Jokowi-Ma’ruf, Adi menilai ada tiga nama mantan gubernur yang potensial yakni mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, mantan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang dan mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau yang akrab disapa Pakde Karwo.
Dia menilai ketiga mantan gubernur tersebut memiliki prestasi yang sangat baik selama menjadi kepala daerah dan memiliki dukungan politik yang kuat dari partai tempat mereka bernaung, sehingga layak masuk kabinet Jokowi-Ma’ruf .
Terpisah, Sekjen PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto saat membuka pembekalan anggota legislatif dan pengurus DPD/DPC PDIP se-Provinsi Aceh, kemarin (8/9). Menurut dia, dialog dan pertemuan sudah dilakukan. Struktur kabinet Jokowi-Ma’ruf sudah mulai diputuskan. namun, masih membutuhkan penyempurnaan.
Khusus untuk PDIP, pembahasan finalisasi kabinet akan dibahas antara Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Selain bicara soal struktur, pembahasan juga akan dilakukan terkait nama-nama calon menteri yang berasal dari partai banteng. “Kami serahkan sepenuhnya kepada ibu ketua umum,” terangnya dalam keterangan pers.
Menurut dia, nama-nama calon menteri dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf belum bisa dibuka ke publik, karena masih dalam proses pembicaraan. Artinya, lanjutnya, satu pertemuan tidak bisa menyelesaikan masalah struktur dan penempatan nama di kabinet. Butuh beberapakali pertemuan untuk menuntaskan masalah itu.
Politikus kelahiran Jogjakarta itu mengatakan, pembicaraan presiden dan para ketuam umum berkaitan dengan sebuah disain besar kabinet Jokowi-Ma’ruf demi membawa kemajuan bagi Indonesia Raya.”Kami juga menyadari setiap partai juga memiliki target-target politik di dalam menempatkan jabatan. Di situlah dialog itu dilakukan. Dan Pak Jokowi memiliki hak prerogatif untuk itu,” kata Hasto.
Yang jelas, ucap Hasto, pembicaraan antara presiden dan ketum partai akan berakhir, ketika Presiden Jokowi mengumumkan kabinet. Dan itu terjadi setelah pelantikan pada 20 Oktober mendatang. “Kami memang mengharapkan pengumuman itu sesuai dengan tata pemerintahan yang baik, dilakukan setelah presiden dan wakil presiden terpilih dilantik oleh MPR,” terang alumnus Universitas Gadjah Mada itu.
Pada periode kedua pemerintahan Jokowi, Hasto berharap bisa meningkatkan kerja sama seluruh elemen pemerintahan dan partai politik. Apalagi Presiden Jokowi akan menaruh perhatian utama kepada peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
PDIP akan terus mendukung kebijakan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Parpol akan berada di depan memimpin pergerakan rakyat di dalam peningkatan SDM. Tentu saja hal itu membutuhkan koordinasi yang baik dengan pemerintahan.
Sebagai contoh di Aceh, kantor partai akan dijadikan sebagai pusat pendidikan politik, kaderisasi, kursus politik, dan juga kursus yang berkaitan dengan keterampilan anak-anak muda. “Agar mereka semakin percaya diri menatap masa depan,” terang Hasto.
Sekjen PKB Muhammad Hasanuddin Wahid mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi untuk memilih calon menteri dari PKB. “Itu merupakan hak prerogatif presiden,” tuturnya. Yang pasti, partainya siap memberikan kader terbaiknya untuk menjadi pembantu presiden.
PKB hanya bisa menunggu keputusan dari presiden dalam menetapkan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Tentu, kata dia, semuanya akan dibahas dengan para ketum partai pendukung pemerintah. Dia enggan membuka nama-nama yang berpotensi menjadi menteri. Yang jelas, lanjut dia, kader PKB banyak yang berkompeten menjadi menteri. (fin)