Sekertaris Partai Nasdem Sulsel Pimpin Rapat Konsolidasi di Maros

Zonamakassar.com, Maros – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Maros,Sulawesi Selatan, menggelar rapat konsolidasi ini, yaitu mengenai struktur partai dan persiapan Pilkada 2020 yang berlangsung di Kantor DPD Partai NasDem kabupaten Maros, Jl Cemara No.28, Selasa (07/01/2020).

Acara yang dibuka langsung oleh ketua bidang OKK tobo heruddin Dan dihadiri Sekretaris DPW Sulawesi Selatan H.Syaharuddin alrif Wakil ketua DPRD Sulawesi Selatan,ketua DPD Nasdem maros Drs. H.A Harmil Mattotorang MM,pengurus DPD partai nasdem Maros, pimpinan DPC NasDem yaitu Ketua, Sekretaris dan OKK DPD NasDem kabupaten se-Maros.

Syahar menjelaskan dalam sambutannya mengatakan konsolidasi ini bertujuan untuk memanaskan mesin politik setelah pelaksanaan Kongres II Partai Nasdem. Kami ingin membangun kepengurusan partai mulai dari, DPD hingga DPC dan tingkat ranting,” kata dia.

Menurut dia, apabila semua struktur kepengurusan dibangun,maka target sebagai Pemenang pilkada 2020 Dan partai pemenang pada 2024 akan mudah tercapai.Ia mengakui bukan hal yang mudah menjadi partai pemenang pemilu sesuai target partai.”Semua butuh perjuangan dan kerja keras dari pengurus partai,” kata dia.

Ia juga mengatakan konsolidasi internal partai bertujuan melihat kesiapan daerah untuk menghadapi pemilu kepala daerah.

Penobatan Raja Turikale, 70 Raja dan Sultan Se-nusantara di Jadwalkan Hadir

Zonamakassar.com, Maros — Sebanyak 70 raja dan sultan senusantara dijadwalkan akan menghadiri acara penobatan Karaeng Turikale di Gedung Serbaguna, Kamis, 5 September 2019.

Sekretaris Penobatan Karaeng Turikale, Andi Kurniawan, dalam jumpa persnya mengatakan, penobatan Karaeng Turikale ini rencananya akan dihadiri sejumlah raja dan Sultan senusantara.

Di antaranya Sultan Sepuh Cerebon, Sultan Sumbawa, Raja Tapanuli Selatan, Sultan Sekala Brak Lampung, Sultan Kutai Kartanegara.

Selain itu, kata dia, ada 8 bangsawan luar negeri yang juga akan menyaksikan prosesi penobatan ini.

“Diantaranya dari Amerika Serikat, Malaysia dan Meksiko,” katanya saat presscon Rabu, 4 September di Warkop Bagas.

Selain Raja dan Sultan, sejumlah Pejabat juga ikut berpartispasi memeriahkan acara ini, seperti Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah, Bupati Maros, HM Hatta Rahman, Wakil Ketua DPRD Maros, AS Chaidir Syam bersama para pemerhati adat.

Cucu Karaeng Turikale itu juga menyampaikan, saat ini panitia sudah merampungkan 99 persen persiapan acara penobatan tersebut. Penobatan ini juga akan disaksikan aliansi Toddolimayya ri Marusu

“Ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale akan kita saksikan kembali, misalnya Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja,” katanya.

Dia mengatakan hal ini tentu menjadi prosesi adat yang menarik, setelah 73 tahun tidak pernah ada penobatan raja di Turikale.

“Ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale akan kita saksikan kembali, misalnya Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja,” katanya.

Dia mengatakan hal ini tentu menjadi prosesi adat yang menarik, setelah 73 tahun tidak pernah ada penobatan raja di Turikale.

“Ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale akan kita saksikan kembali, misalnya Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja,” katanya.

Dia mengatakan hal ini tentu menjadi prosesi adat yang menarik, setelah 73 tahun tidak pernah ada penobatan raja di Turikale.

Sementara itu, Koordinator Bidang Publikasi Panitia Penobatan Karaeng Turikale, Ilham Halimsyah mengatakan, sebagai rangkaian dari prosesi adat penobatan Karaeng Turikale, siang tadi, dilakukan penyambutan kedatangan Raja Tapanuli Selatan, YM Daulat Raja Agung Panaturi Hasadon Tapanuli Selatan, Dr Joner Rambe MM MSi di Bola Loppoe Turikale Maros.

“Penyambutan secara adat itu, dilanjutkan dengan penyerahan Tanda Persaudaraan dari Raja Tapanuli Selatan kepada Karaeng Turikale. Dimana tanda persaudaraan ini berupa seekor kerbau jantan yang diserahkan kepada Karaeng Turikale, YM Brigjen Pol (P) Dr H Andi Achmad Aflus Mapparessa MM MSi,”sebutnya.

Untuk diketahui, keturunan langsung Karaeng Turikale bersama keluarga besar dan tokoh adat sesepuh Turikale bersama Lembaga Adat Kekaraengan Turikale Kabupaten Maros telah memutuskan dan menyepakati untuk melakukan prosesi penobatan Karaeng Turikale yang baru.

Figur yang dipandang mampu memikul amanah dan tanggung jawab memangku jabatan Karaeng Turikale adalah Brigjen Pol (P) Dr H Andi Achmad Aflus Mapparessa MM MSi bin Haji Andi Mapparessa Daeng Sitaba bin La Palaguna Daeng Marowa bin I Sanrima Daeng Parukka. (rin)

PKM UNHAS Hadirkan Pelatihan Bahasa Inggris ‘Blue Forest’ di Dusun Kuri Caddi Maros

Zonamakassar.com, Maros – Di era global seperti sekarang ini, akan semakin banyak perkembangan internasional yang terjadi, utamanya dibidang pendidikan dan pekerjaan.

Karenya semakin penting pula pengetahuan mengenai Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Sadar akan hal itu, masyarakat dusun Kuri Caddi yang berlokasi di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sangat berharap mendapat pembelajaran bahasa inggris guna menambah pengetahuan dan kemampuan mereka dalam berbahasa inggris.

Permintaan dari masyarakt kuri cadi disambut oleh lima mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) melalui program kreatifitas mahasiswa (PKM).

Kelima mahasiswa tersebut bernama Andi Hurul Auni Usman sebagai ketua dan Meta Dilianti Palimbunga, Basran Nur Basir, Ma’rifa Baharuddin, Aswar sebagai anggota. Mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Kehutanan dan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, dibawah bimbingann Ira Taskirawati, Ph.D. Para mahasiswa tersebut menjalankan program pengajaran Bahasa inggris yang mereka namai BLUE-FOREST (Best Learning by Using English Card For Enhancement Satisfied of Tourism). Program ini dilaksanakan dari bulan April 2019 hingga juni 2019.

Selain memberi pengetahuan mengenai Bahasa inggris, program ini juga diharapkan dapat menanamkan pengetahuan mengenai mangrove yang merupakan kekayaan alami dusun mitra mereka.

Salah seorang anggota tim BLUE-FOREST, Andi Hurul Auni Usman mengatakan bahwa, “kami berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan permintaan masyarakat dusun Kuri Caddi akan keinginan mereka untuk mempelajari Bahasa inggris, selain itu juga untuk melatih mereka dalam mengolah kekayaan alami yang terdapat pada dusun Kuri Caddi, kami pun memberikan pembelajaran khusus mengenai mangrove yang kami mulai dengan memperkenalkan komponen-komponen pohon mangrove, sehingga mereka lebih mengetahui bagian-bagian dari pohon mangrove tersebut serta dengan jelas dapat megetahui bagian manakah yang berpotensi untuk mereka olah dan dijadikan sebagai sumber mata pencaharian”.

Tim BLUEFOREST melaksanakan 3 program yang terdiri atas beberapa materi, diantaranya how to introduce self, mempelajari abjad dalam Bahasa inggris, serta mempelajari komponen-komponen dari pohon mangrove. Sehingga mereka berharap, selepas dari kegiatan pengajaran ini, dusun Kuri Caddi dapat berbasis internasional yang didukung oleh masyarakatnya yang terampil berbahasa inggris dalam pengaplikasian dikehidupan sehari-hari.

“Kami membekali mereka dengan English card yaitu kartu-kartu abjad Bahasa inggris yang dilengkapi dengan beberapa vocabulary yang kami anggap penting dalam pengaplikasian dikehidupan sehari-hari, serta percakapan simple agar mereka lebih terlatih pelafalannya dalam Bahasa inggris” jelas meta, anggota tim BLUEFOREST

“Kartu ini kami desain seperti kartu joker, yang ukurannya tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar, agar mudah mereka bawa kemanapun dan kapanpun mereka butuhkan. Tidak lupa juga kami membekali mereka dengan buku mangrove yang kami sebut The Miracle Of Mangrove.

Sebaik mungkin kami berikan informasi-informasi mengenai mangrove yang kami anggap penting bagi mereka” pungkas ma’rifa.

Basran nur basir menambahkan, sebagai tolak ukur keberhasilan program ini, tim BLUEFOREST memberikan test awal atau pre test untuk mengukur kemampuan awal para masyarakat mitra dalam berbahasa inggris. Sehingga memudahkan para anggota tim dalam menyusun materi-materi yang memang masyarakat mitra butuhkan, mengingat waktu pelaksanaan yang relative singkat, maka materi-materi tersebut harus dikemas sebaik mungkin.

Tidak hanya itu, pada akhir pertemuan, anggota tim kembali akan memberikan test yang disebut post test untuk mengukur progress mereka, sebelum dan sesudah mengikuti program BLUEFOREST ini. “Kami pun sangat terbantu dengan antusias dari masyarakat mitra kami” potong aswar.(*)

Bantimurung Objek Wisata Tertua di Sulsel

Foto: Bantimurung sekitar 100 tahun lalu

ZonaMakassar.Com, Makassar – Objek wisata Bantimurung di SulSel begitu populer di kalangan traveler. Kumpulan foto lawas membuktikan, kalau Bantimurung telah dikenal 100 tahun lalu.

Tak banyak yang tahu, kalau objek wisata Alam Bantimurung yang ada di Maros, Sulawesi Selatan, merupakan objek wisata tertua di Sulawesi Selatan. Di hari Kamis (21/2/2019), objek wisata Bantimurung ini telah berumur 1 abad.

Objek wisata alam yang dikenal sebagai ‘Kingdom Of Butterfly’ ini, ditetapkan dalam lembar negara pemerintah Hindia Belanda nomor 90 tertanggal 21 Februari 1919 sebagai monumen alam atau ‘Natuurmonument Bantimoeroeng Waterval.’ Luasnya mencakup 10 hektare.

Usai itu, Air Terjun Bantimurung semakin menjadi primadona dan menjadi objek wisata yang digandrungi oleh wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Tak hanya itu, sejumlah ilmuwan juga rela datang jauh-jauh untuk menelisik lebih jauh kupu-kupu yang mendiami wilayah itu.

“21 Februari tepat 100 tahun usia objek wisata alam Bantimurung. Memang banyak orang yang tidak mengetahui ini. Objek wisata ini paling tua di Sulsel,” kata Kepala Dinas Pariwisata Maros, Ferdiansyah.

Pencetusan itu dipelopori oleh seorang ahli entomologi Belanda, Marinus Cornelius Piepers bersama beberapa ilmuwan lainnya yang bersurat ke pendiri Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda, Sijfert Hendrik Kooders tahun 1915. Surat itu menyebutkan ada ribuan jenis kupu-kupu yang tidak ada di tempat lain dan disayangkan jika punah.

“Perlindungan itu dilatarbelakangi oleh adanya beberapa wilayah yang memiliki nilai ilmiah atau estetika yang khas. Pemerintah Belanda menetapkannya dengan istilah ‘Natuurmonument’ monumen alam atau cagar alam untuk istilah saat ini,” lanjutnya.

Pencetusan Bantimurung sebagai cagar alam, bahkan ditulis oleh koran Belanda: De Preanger-bode edisi 4 Maret 1919 atas siaran pers Sijfert Hendrik Kooders, hingga diketahui secara luas oleh dunia internasional. Hal itulah yang menempatkan Belanda menjadi negara dengan capaian tertinggi konservasi monumen alam, ketimbang Amerika, Jerman, Swiss dan beberapa negara kala itu.

Foto: Dahulu tak sedikit orang asing yang singgah ke sini (istimewa)

Melalui surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 237/Kpts/Um/3/1981, tertanggal 30 Maret 1981. Status Cagar Alam Bantimurung seluas 18 Hektar berubah menjadi taman wisata, hingga akhirnya berubah status menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di tahun 2004.

Tak hanya pelestarian alam, habitat kupu-kupu yang menjadi ikon Taman Nasional ini, juga terus dilakukan. Mulai dari indentifikasi kupu-kupu, penangkaran hingga monitoring populasi, serta pelibatan masyarakat dalam upaya itu.

Bantimurung sekarang

“Saat ini taman nasional telah berhasil mengidentifikasi kupu-kupu sebanyak 247 jenis kupu-kupu. Sebanyak 25 jenis di antaranya telah berhasil dikembangbiakkan secara rutin di sanctuary kupu-kupu,” kata Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Yusak Mangetan.

Sayangnya, objek wisata yang telah mendunia sejak 1 abad silam itu, dinilai tak lagi ‘ramah’ pada wisatawan mancanegara. Tiket masuk untuk turis asing sebesar Rp 250 ribu perorang dinilai sangat memberatkan. Objek wisata alam ini pun sepi dari pengunjung mancanegara. (**)

Repnas Sulsel Blusukan ke Pasar di Maros

ZonaMakassar.Com,Maros – Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) Sulawesi Selatan, terjun ke pasar Butta Salewangan Maros (BSM), untuk mengecek ksetabilan harga di pasar tradisional.

Herman Haizer selaku Ketua Repnas Sulsel, melakan blusukan di pasar tradisional, untuk mengecek harga di pasar.

Saat kunjungan Herman Haizer di sambut hangat beberapa pedangan tradisional.

” Kami ke beberapa pasar tradisional, untuk mengecek kestabilan harga,” sahut Herman.

Selain mengecek harga, ketua HIPMI Sulsel ini pun membeli barang para pedagang sekaligus mengkampayekan Jokowi-Ma’ruf Amin.

” Jokowi orang baik, jangan biarkan dia bekerja sendiri, apalagi mengecek harga di pasar tradisional masih stabil,” cetusnya kepada awak media. (js)