Syukuran Khitanan Anak Wawali Makassar di hadiri Nurdin Halid, Akbar Faisal Hingga Menpan RB

ZonaMakassar.com – Syukuran khitanan Mahadeenah Al Farabby Ibnu Rizal (Buyung) putra ke tiga dari Wakil Wali (Wawali) Kota Makassar Syamsu Rizal, dihadiri beberapa pejabat, politisi hingga akademisi.

Acara berlangsung di Kediaman Pribadi Syamsu Rizal sapaan akrab Deng Ical, di Kompleks Puri Tata Indah, Jl Dg Tata, Kamis (25/4/2019).

Tampak hadir Ketua DPD 1 Golkar Sulsel, Nurdin Halid, anggota DPR RI dari partai Nasdem, Akbar Faisal dan anggota DPR RI dari partai Golkar, Hamka B Kaddy hingga Menpan, Syafruddin.

Juga hadir Dandim 1408/BS Makassar, Letkol Andriyanto, Kepala BPN Makassar Andi Bakti dan Ketua DPRD Makassar Farouk M Beta serta Prof Hasrullah serta Kapolres Pelabuhan, AKBP Aris Bachtiar.

Acara yang dihadiri ratusan tamu undangan dimulai siang pukul 11.00 WITA hingga 17.00 WITA berlangsung lancar dan meriah.

Dampingi Dirjen Bea dan Cukai, Wali Kota Makassar Ikut Musnahkan 12,5 Juta Batang Rokok dan 552 Botol Ilegal

ZonaMakassar.com – Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto turut mendampingi Direktur Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Heru Pambudi bersama Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman melakukan pemusnahan 12.543.000 batang rokok ilegal senilai Rp 8.983.102.000 serta minuman keras ilegal sebanyak 552 botol dengan senilai Rp.301.815.000.

Pemusnahan barang kena cukai ilegal tersebut, merupakan upaya nyata Bea Cukai dalam menjalankan fungsinya selaku community protector, di mana Bea Cukai akan terus berupaya untuk melindungi masyarakat dari beredarnya barang-barang ilegal yang berpotensi membahayakan.

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyatakan bahwa rokok dan minuman keras ilegal yang dimusnahkan dalam kesempatan tersebut merupakan hasil penindakan Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan sepanjang tahun 2018 hingga awal Maret 2019.

“Dalam kurun waktu tersebut, jajaran Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan telah berhasil mengamankan 12,54 juta batang rokok dan 552 botol minuman keras ilegal dengan total perkiraan nilai barang mencapai lebih dari Rp9,29 miliar, serta potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp4,2 miliar,” ujar Heru.

Rokok dan minuman keras ilegal tersebut berhasil diamankan dari pelabuhan laut dan barang yang sudah berada di pasaran di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Penindakan yang terus secara intens dan masif dilakukan oleh Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan menunjukan komitmen untuk senantiasa melakukan peningkatan pengawasan terhadap peredaran rokok dan minuman keras ilegal di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat.

Heru menambahkan bahwa komitmen dalam melindungi masyarakat yang ditunjukan oleh Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan merupakan bagian dan’ Program Penertiban Cukai Berisiko Tinggi. Program yang diusung oleh Bea Cukai tersebut bertujuan untuk menciptakan iklim bisnis yang kondusif bagi para pelaku usaha yang menaati aturan dan ketentuan perpajakan.

“Kami akan senantiasa mendorong para pelaku usaha baik untuk selalu menamamkan mindset bahwa legal itu mudah. Tujuannya agar pasar dalam negeri diisi oleh produk-produk lokal yang membayar pajak,” tambah Heru.

Pemusnahan tersebut diharapkan juga dapat memberikan efek jera kepada para oknum yang berupaya untuk memproduksi dan mengedarkan rokok dan minuman keras ilegal dengan tujuan untuk menghindari ketentuan perpajakan.

Penindakan yang telah Bea Cukai lakukan, tidak lepas dari peran aktif, dan sinergi antar instansi, aparat penegak hukum lainnya, dan masyarakat dalam melakukan melaporkan tindakan yang melanggar ketentuan hukum.

Dampingi Mentan, Wali Kota Makassar Saksikan Pelepas Ekspor Pertanian Sulsel di PT KIMA

ZonaMakassar.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali mendorong ekspor komoditas pertanian Indonesia, sekaligus meluncurkan inovasi berbasis aplikasi, yakni I-MACE (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports) atau Peta Komoditas Ekspor Pertanian Indonesia di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Rabu (13/3/2019).

Mentan Amran Sulaiman mengatakan pelepasan ekspor Sulsel yang dilakukan hari ini bernilai Rp 800 miliar.

“Tahun 2019, total ekspor Sulsel sampai dengan hari ini Rp 800 miliar lebih. Kemudian untuk Indonesia, di tahun 2013, total ekspor sebanyak 33 juta ton. Pada 2018, kita naik, ekspor menjadi 42 juta ton. Bayangkan ekspor naik 10 juta ton dalam waktu 4 tahun. Jangan yang 30 ribu ton itu yang dibahas terus 3 minggu.Tolong bahas 7 bulan terakhir, ekspor kita naik 10 juta ton,” ujarnya.

Adapun total ekspor dari Sulsel 2019 saat ini 6.485 ton, komoditasnya terdiri dari buah pisang ke Malaysia, buah manggis ke China, buah markisa ke Singapura, Vanilli Kering ke Turki, sarang burung walet ke China, kacang mede ke Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jerman, Australia, Kanada dan Malaysia. Kemudian, kulit ari mente, minyak kulit mente ke Korea Selatan, kakao biji ke Malaysia, kakao pasta ke Malaysia, lada biji ke Vietnam dan Malaysia, ampas sawit ke China, cengkeh ke Malaysia, cincau hitam ke Thailand, kacang hijau ke China, dedak gandum dan gandum pellet ke China, porang ke China dan rumput laut ke China, Korea Selatan, serta Vietnam.

Amran menekankan capaian ekspor pertanian ini merupakan prestasi yang membanggakan Indonesia. Angka ekspor semua komoditas pada sektor pertanian mengalami kenaikan. Terhitung sejak 2014 hingga 2018 terjadi kenaikan ekapor nasional sebesar 29 persen, nilainya mencapai Rp 500 triliun.

“Ini adalah penopang ekonomi Indonesia. Ada dua hal yang menopang ekonomi Indonesia untuk bangkit yaitu ekspor dan investasi, dan hari ini kita dongkrak ekspor,” ujarnya.

Amran menegaskan ekspor komoditas pertanian di era Pemerintahan Jokowi-JK saat sudah langsung ke negara tujuan, sehingga tidak lagi transit. Dulu, transit ke Lampung, kemudian Thailand dan baru sampai ke India.

“Kami baru pulang dari Vietnam, Hanoi, kami minta semua direct, yaitu dari Indonesia ke Eropa. Kemudian manggis juga, dulu transit ke Singapore dan Malaysia. Tapi berkat kerja keras kita semua, kini langsung dari Indonesia ke Hongkong,” tegasnya.

“Hasilnya, ekspor manggis terjadi kenaikan ratusan persen. Keuntunganya dinikmati petani kita. Dulu added value nya dinikmati negara lain, sekarang dinikmati petani kita,” pinta Amran.

Terkait dengan pengembangan komoditas ekspor di Sulawesi Selatan, Amran mengungkapkan Kementan bersama Provinsi Sulawesi Selatan akan menjadi Luwu Raya (Kabupaten Luwu, Palopo, Luwu Timur dan Luwu Utara) dan Enrekang menjadi lumbung lada yang akan menyuplai kebutuhan dunia, tidak hanya Indonesia. Adapun komoditas unggulan ekspor Sulawesi Selatan lainnya yakni kakao, pisang, kelapa, dan jambu mente. Tetapi ke depan, yang dieksor merupakan barang jadi atau olahan.

“Ada juga talas yang akan diekspor ke Jepang. Kemudian ada ayam dan telur yang sudah tembus Jepang. Ini pertama dalam sejarah Indonesia. Nah, dengan Pak Gubernur Sulawesi Selatan yang hubungannya dengan Jepang bagus, aku yakin akses ekspor semakin baik. Target ekspor tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu,” ungkapnya.

Peta Komoditas Ekspor

Sementara untuk I-MACE, Amran menuturkan aplikasi Peta Komoditas Ekspor Pertanian Indonesia merupakan aplikasi berisi informasi kegiatan ekspor komoditas pertanian di Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian seluruh Indonesia. Tujuan dari aplikasi ini agar dapat digunakan Pemerintah Propinsi dalam pembangunan pertanian serta mendorong pertumbuhan komoditas pertanian berorientasi ekspor.

“Dengan informasi dari I-MACE selain dapat dijadikan landasan kebijakan pembangunan pertanian di tiap provinsi, khususnya di sentra-sentra komoditas ekspor, diharapkan juga dapat digunakan untuk mengkaji potensi ekspor dan menyediakan pelaku usaha serta regulasi yang berpihak pada pengembangan agribisnis setempat,” tuturnya.

Dengan demikian, Amran menyebutkan dengan aplikasi ini, pemerintah propinsi dapat melihat potensi ekspor di propinsinya dan akan termotivasi untuk mencari jalan agar komoditas di propinsinya bisa tembus pasar ekspor. Misalnya saja seperti sarang burung walet (sbw), berdasarkan data Karantina Makassar di tahun 2018 ada 80.971 ton (sbw) yang keluar dari Sulawesi Selatan ke beberapa propinsi yang sebenarnya itu menjadi bahan baku komoditas ekspor di propinsi lain.

“Nah, ini kesempatan bagi pemerintah propinsi Sulawesi Selatan untuk mencari terobosan agar ekspor sarang burung walet dapat keluar langsung dari Makassar, tentu ini akan mengungkit pendapatan daerah bukan,” ujarnya.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, menyebutkan frekuensi aktivitas ekspor di tahun 2018 yang tercatat di Karantina Makassar sebanyak 3.206 kali penerbitan Phitosanitary Certificate dengan volume 412.924 Ton. Pada trimester pertama di tahun 2019 frekuensi ekspor telah mencapai 474 kali sebesar 138.737 Ton.

“Baru 3 bulan tapi sudah mencapai 30% dari total volume ekspor di tahun 2018, sangat berpotensi untuk bisa menargetkan peningkatan 200 persen,” kata Ali Jamil.

“Bagi masyarakat Sulawesi Selatan yang ingin menjadi eksportir, produsen produk pertanian namun tidak memiliki pasar, atau pihak yang membutuhkan bimbingan untuk memenuhi persyaratan teknis negara tujuan, Kementan melalui Barantan akan selalu siap mendampingi dan memfasilitasinya melalui program AgroGemilang,” tandasnya.