DPD LAN Sulsel TekenĀ  (MOU) Bersama Kajati Sulsel

Zonamakassar.com, – Makassar, menjelang awal pergantian tahun 2020, Lembaga Anti Narkotika Sulawesi Selatan terus melakukan inovasi gebrakan gebrakan yang memicu antusias masyarakat Sulawesi Selatan khususnya warga kota Makassar untuk terlibat dalam aksi nyata bersama DPD LAN SUL-SEL memerangi kejahatan penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Selatan.

Kali ini gebrakan yang luar biasa di lakukan oleh lembaga fenomenal ini, yakni DPD Lembaga Anti Narkotika membuat nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU) bersama Kejaksaan Tinggi Provinsi Sulawesi Selatan. Jumat (27/12/2019).

Dalam agenda pertemuan sakeral tersebut, turut di hadiri, Ahmad Anggi Raksanjani (ketua DPD LAN Sulsel), Andi Sultan (sekretaris DPD LAN Sulsel) Alimuddin (Kabid WRC), Dr. Firdaus Dewilmar, SH, M.Hum (Kepala Kajati Sulsel), Yudi Indra, G, SH, MH (Asisten Tindak pidana Umum )dan para Kasi Kajati Sulsel

Adapun salah satu isi poin penting nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU) yang di teken oleh Ahmad Anggi Raksanjani (KETUA DPD LAN SUL-SEL) bersama Dr. Firdaus Dewilmar, SH, M.Hum (KEPALA KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI SELATAN), yakni kemitraan dalam aksi bersama penanggulangan penyuluhan sosialisasi bahaya narkoba di Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Firdaus Dewilmar, SH, M.Hum (KEPALA KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI SELATAN) turut menyampaikan komentar kepada awak media, “dengan lahirnya Nota Kesepahaman/ Memorandum of Understanding (MOU) antara DPD LAN SUL-SEL DAN KAJATI SUL-SEL, kami yakin ini akan menjadi awal cikal bakal turunnya tingkat kejahatan penyalahgunaan narkotika di Sulawesi Selatan”

Tak luput dari perhatian para awak media, ketua DPD LAN SUL-SEL juga ikut menyampaikan komentar, “Alhamdulillah, ini semua berkat doa seluruh teman teman, saya juga menyampaikan terimakasih banyak kepada kepala kajati SUL-SEL karena telah berkenan dan resmi menjadi menjadi bagian tubuh dari DPD LAN SUL-SEL dengan menjabat sebagai dewan pembina DPD LAN SUL-SEL” Ucap sapaan Bang oki.

Meningkatkan mutu layanan rehabilitasi, BNNP Sulsel Gelar Bintek

Zonamakassar.com,Makassar – Agar terlaksananya program layanan rehabilitasi narkotika yang berkualitas maka

diperlukan peningkatan kemampuan melalui pemberian penguatan, dorongan dan

fasilitasi layanan rehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika

bagi lembaga rehabilitasi Instansi Pemerintah di Prov. Sulawesi Selatan.

Menindaklanjuti hal tersebut, Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulsel melaksankan Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu Layanan Bagi BNNK dan Institusi Kesehatan di Prov. Sulawesi Selatan selama 2 hari (25-26 April 2019) di Almadera Hotel Makassar.

Kegiatan ini diikuti oleh utusan BNNK Kab/Kota Sulsel, Dinkes Sulsel, Dinkes Kota Makassar, Gowa dan Kabupaten Maros serta layanan rehabilitasi rawat jalan di Puskesmas Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam pemaparannya, kepala BNNP Sulsel Brigjend. Pol. Drs. Idris Kadir,SH.M.Hum., menyatakan bahwa kondisi darurat narkoba di Indonesia sudah sangat menghawatirkan, termasuk di Sulawesi Selatan.

” Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini tercatat sebesar 3.347.124 kasus, sedangkan di Sulsel sebesar 133.503 kasus. Bahkan pengungkapan kasus baru sampai dengan April 2019 sudah diamankan lebih dari 30 kg narkoba jenis shabu. ” terang Idris.

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaksana layanan rehabilitasi dalam skrining dan intervensi bagi korban penyalahgunaan narkoba agar dapat pulih, produktif dan berfungsi sosial.(*)

Korban Pertama Krokodil, Narkoba Zombie Ditemukan di Inggris

ZonaMakassar.Com, London – Korban Pertama Krokodil, Narkoba Zombie Ditemukan di Inggris

Korban pertama dari ‘obat zombie pemakan daging’ bernama Krokodil ditemukan di Inggris. Emma Davies, menjadi pengguna narkoba pertama di Inggris yang jatuh sakit setelah mengkonsumsi obat apa yang dijuluki “narkotika paling mematikan di dunia” itu.

Emma Davies, 41, dikatakan menderita luka terbuka “mengerikan” setelah menggunakan krokodil, zat Kelas A yang membusukkan daging 10 kali lebih kuat dari heroin. Karena kondisinya, Emma Davies dirawat di Gloucestershire Royal Hospital.

Krokodil pertama kali muncul di provinsi Rusia selama awal 2000-an. Ini adalah obat suntik ilegal yang dikenal sebagai “obat kanibal”. Sebelum ditemukan di Inggris, obat mematikan itu sudah menyebabkan kekacauan di Kolombia, Rusia dan Ukraina.

Narkoba ini memicu cedera mengerikan yang menjadi ciri penggunaan krokodil, yang meliputi kerusakan parah pada kulit dan pembuluh darah, menyebabkan bisul dan gangren – yang terlihat seperti sisik buaya.

Minggu ini, Emma Davies muncul ke pengadilan. Ia harus berurusan dengan hukukm setelah dia dan seorang wanita lain, Marsha Woodwart, tertangkap basah mencuri barang lebih dari $ 1.700 dari tiga toko Gloucester.

“Miss Davies akan menukar barang-barang itu dengan obat-obatan dan makanan. Ini adalah kesempatan pertama dia merasa menyesal atas tindakannya karena dia akan memulai program rehabilitasi narkoba pada hari berikutnya,” kata pengacara Clare Buckley di Daily Mail. (NZherald)

Penanganan Penyalah Guna Narkoba Harus Objektif dan Proporsional

ZonaMakassar.Com , Jakarta – Penyalahgunaan narkoba bisa berdampak pada banyak hal salah satunya over kapasitas lapas. Tak menghendaki hal itu, Kepala BNN, Drs Heru Winarko, S.H memberikan atensi yang sangat serius, agar para aparat penegak hukum bisa melakukan tindakan yang objektif dan proporsional dalam menangani penyalah guna narkoba. (7/2/2019)

Idealnya, para penyalah guna narkoba itu perlu dipulihkan dari masalah adiksinya melalui upaya rehabilitasi. Fakta yang tidak bisa dipungkiri saat ini adalah, masih banyak penyalah guna narkoba akhirnya berakhir di penjara. Imbasnya, mereka justru naik kelas dari yang tadinya hanya sebagai pengguna malah menjadi jadi pengedar ataupun bandar.

Pada dasarnya, langkah nyata dalam penanganan penyalah guna narkoba ke dalam lembaga rehabilitasi, 7 instansi yaitu MA, Kemenkumham, Kejaksaan RI, Kepolisian, BNN, Kemenkes, dan Kemensos telah membuat Peraturan Bersama tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika ke Dalam Lembaga Rehabilitasi, pada 11 Maret 2014 silam. “Melalui Perber inilah, dibentuk Tim Asesmen Terpadu (TAT) yang terdiri dari Tim dokter (dokter dan psikolog), serta Tim Hukum yang terdiri dari unsur BNN, Polri, Kejaksaan, dan Kemenkumham serta Bapas”.

Meski dalam lima tahun perkembangannya dinilai belum signifikan, namun eksistensi TAT perlu terus dikuatkan. Saat menjadi narasumber dalam kegiatan coffee morning Sinergitas BNN, Penyidik dan Penuntut Umum Dalam penerapan pasal 127 UU No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, di BNN, Kamis (7/2/2019) Kepala BNN, mengatakan “TAT memiliki peran yang sangat sentral. Melalui TAT, tersangka yang ditangkap bisa ditentukan, apakah hanya penyalah guna ataukah termasuk dalam kategori pengedar dan bandar”.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, kendala teknis di lapangan masih kerapkali ditemui. Di antara sekian banyak persoalan, Eko Daniyanto, selaku Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkapkan bahwa persoalan waktu menjadi salah satu hal yang perlu dibahas. Menurutnya, ketika aparatnya di lapangan menangkap seorang tersangka, maka mereka harus melakukan pemeriksaan secara komprehensif sehingga seringkali dilakukan pengembangan kasus dan hal ini membutuhkan waktu.

Meski terdapat sejumlah kendala, Eko mengatakan pihaknya sangat mendukung eksistensi TAT. Dalam waktu dekat, ia berencana mengirim telegram ke seluruh daerah agar anggotanya memberikan dukungan pada BNN di level provinsi dalam pelaksanaan TAT.

HUMAS BNN