Hadiri RUPS PT KIMA, Pj Wali Kota Makassar: Laporan Telah Diaudit

ZonaMakassar.Com, Makassar – Penjabat (Pj) Wali Kota Makassar, M Iqbal S Suhaeb menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT KIMA, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (20/5/2019).

Rapat ini dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata, Edwin Hidayat Abdullah.

Iqbal mengatakan RUPS ini membahas beberapa poin penting yakni persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan tahun 2018 serta penetapan kantor akuntan publik untuk mengaudit laporan perseroan 2019.

“Persetujuan perubahan anggaran dasar PT Kima kita juga bahas di RUPS ini,” ucap Iqbal.

Dalam RUPS ini, PT KIMA melaporkan keuangannya, dimana laba bersih per 31 Desember 2018 sebesar Rp 48 milyar dan ditutup dengan total aset Rp 325,5 milyar. Sementara skor tingkat kesehatan perseroan sebesar 81,50 atau mendapatkan nilai “AA”.

“Laporan tersebut telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Supoyo yang menghasilkan opini wajar dalam segala hal,” jelas Iqbal.

Dengan torehan hasil yang dicapai 2018, RUPS memutuskan untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham diantaranya Pemerintah RI sebesar Rp 1,44 M (60 persen), Pemprov Sulsel Rp 720 Juta (30 Persen) dan untuk Pemkot Makassar Rp 240 Juta (10 persen).

Selain membahas laba, dalam rapat ini juga membahas realisasi program kemitraan 2018 dimana dana tersedia sebanyak Rp 624 Juta dan sepanjang 2018 telah tersalurkan sebanyak Rp 621 Juta.

“Sisa saldonya Rp 5 juta. Efektivitasnya sangat baik capai 99,20 persen,” sebutnya.

Dampingi Mentan, Wali Kota Makassar Saksikan Pelepas Ekspor Pertanian Sulsel di PT KIMA

ZonaMakassar.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali mendorong ekspor komoditas pertanian Indonesia, sekaligus meluncurkan inovasi berbasis aplikasi, yakni I-MACE (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports) atau Peta Komoditas Ekspor Pertanian Indonesia di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Rabu (13/3/2019).

Mentan Amran Sulaiman mengatakan pelepasan ekspor Sulsel yang dilakukan hari ini bernilai Rp 800 miliar.

“Tahun 2019, total ekspor Sulsel sampai dengan hari ini Rp 800 miliar lebih. Kemudian untuk Indonesia, di tahun 2013, total ekspor sebanyak 33 juta ton. Pada 2018, kita naik, ekspor menjadi 42 juta ton. Bayangkan ekspor naik 10 juta ton dalam waktu 4 tahun. Jangan yang 30 ribu ton itu yang dibahas terus 3 minggu.Tolong bahas 7 bulan terakhir, ekspor kita naik 10 juta ton,” ujarnya.

Adapun total ekspor dari Sulsel 2019 saat ini 6.485 ton, komoditasnya terdiri dari buah pisang ke Malaysia, buah manggis ke China, buah markisa ke Singapura, Vanilli Kering ke Turki, sarang burung walet ke China, kacang mede ke Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jerman, Australia, Kanada dan Malaysia. Kemudian, kulit ari mente, minyak kulit mente ke Korea Selatan, kakao biji ke Malaysia, kakao pasta ke Malaysia, lada biji ke Vietnam dan Malaysia, ampas sawit ke China, cengkeh ke Malaysia, cincau hitam ke Thailand, kacang hijau ke China, dedak gandum dan gandum pellet ke China, porang ke China dan rumput laut ke China, Korea Selatan, serta Vietnam.

Amran menekankan capaian ekspor pertanian ini merupakan prestasi yang membanggakan Indonesia. Angka ekspor semua komoditas pada sektor pertanian mengalami kenaikan. Terhitung sejak 2014 hingga 2018 terjadi kenaikan ekapor nasional sebesar 29 persen, nilainya mencapai Rp 500 triliun.

“Ini adalah penopang ekonomi Indonesia. Ada dua hal yang menopang ekonomi Indonesia untuk bangkit yaitu ekspor dan investasi, dan hari ini kita dongkrak ekspor,” ujarnya.

Amran menegaskan ekspor komoditas pertanian di era Pemerintahan Jokowi-JK saat sudah langsung ke negara tujuan, sehingga tidak lagi transit. Dulu, transit ke Lampung, kemudian Thailand dan baru sampai ke India.

“Kami baru pulang dari Vietnam, Hanoi, kami minta semua direct, yaitu dari Indonesia ke Eropa. Kemudian manggis juga, dulu transit ke Singapore dan Malaysia. Tapi berkat kerja keras kita semua, kini langsung dari Indonesia ke Hongkong,” tegasnya.

“Hasilnya, ekspor manggis terjadi kenaikan ratusan persen. Keuntunganya dinikmati petani kita. Dulu added value nya dinikmati negara lain, sekarang dinikmati petani kita,” pinta Amran.

Terkait dengan pengembangan komoditas ekspor di Sulawesi Selatan, Amran mengungkapkan Kementan bersama Provinsi Sulawesi Selatan akan menjadi Luwu Raya (Kabupaten Luwu, Palopo, Luwu Timur dan Luwu Utara) dan Enrekang menjadi lumbung lada yang akan menyuplai kebutuhan dunia, tidak hanya Indonesia. Adapun komoditas unggulan ekspor Sulawesi Selatan lainnya yakni kakao, pisang, kelapa, dan jambu mente. Tetapi ke depan, yang dieksor merupakan barang jadi atau olahan.

“Ada juga talas yang akan diekspor ke Jepang. Kemudian ada ayam dan telur yang sudah tembus Jepang. Ini pertama dalam sejarah Indonesia. Nah, dengan Pak Gubernur Sulawesi Selatan yang hubungannya dengan Jepang bagus, aku yakin akses ekspor semakin baik. Target ekspor tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu,” ungkapnya.

Peta Komoditas Ekspor

Sementara untuk I-MACE, Amran menuturkan aplikasi Peta Komoditas Ekspor Pertanian Indonesia merupakan aplikasi berisi informasi kegiatan ekspor komoditas pertanian di Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian seluruh Indonesia. Tujuan dari aplikasi ini agar dapat digunakan Pemerintah Propinsi dalam pembangunan pertanian serta mendorong pertumbuhan komoditas pertanian berorientasi ekspor.

“Dengan informasi dari I-MACE selain dapat dijadikan landasan kebijakan pembangunan pertanian di tiap provinsi, khususnya di sentra-sentra komoditas ekspor, diharapkan juga dapat digunakan untuk mengkaji potensi ekspor dan menyediakan pelaku usaha serta regulasi yang berpihak pada pengembangan agribisnis setempat,” tuturnya.

Dengan demikian, Amran menyebutkan dengan aplikasi ini, pemerintah propinsi dapat melihat potensi ekspor di propinsinya dan akan termotivasi untuk mencari jalan agar komoditas di propinsinya bisa tembus pasar ekspor. Misalnya saja seperti sarang burung walet (sbw), berdasarkan data Karantina Makassar di tahun 2018 ada 80.971 ton (sbw) yang keluar dari Sulawesi Selatan ke beberapa propinsi yang sebenarnya itu menjadi bahan baku komoditas ekspor di propinsi lain.

“Nah, ini kesempatan bagi pemerintah propinsi Sulawesi Selatan untuk mencari terobosan agar ekspor sarang burung walet dapat keluar langsung dari Makassar, tentu ini akan mengungkit pendapatan daerah bukan,” ujarnya.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, menyebutkan frekuensi aktivitas ekspor di tahun 2018 yang tercatat di Karantina Makassar sebanyak 3.206 kali penerbitan Phitosanitary Certificate dengan volume 412.924 Ton. Pada trimester pertama di tahun 2019 frekuensi ekspor telah mencapai 474 kali sebesar 138.737 Ton.

“Baru 3 bulan tapi sudah mencapai 30% dari total volume ekspor di tahun 2018, sangat berpotensi untuk bisa menargetkan peningkatan 200 persen,” kata Ali Jamil.

“Bagi masyarakat Sulawesi Selatan yang ingin menjadi eksportir, produsen produk pertanian namun tidak memiliki pasar, atau pihak yang membutuhkan bimbingan untuk memenuhi persyaratan teknis negara tujuan, Kementan melalui Barantan akan selalu siap mendampingi dan memfasilitasinya melalui program AgroGemilang,” tandasnya.