Setelah Viral Pulau Lantigian Selayar di Jual, Ini Klarifikasi Pihak Pembeli

Zonamakassar.com, Makassar – Pulau Lantigian sempat menarik perhatian publik setelah viral di Dunia Maya. Pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate ini dikabarkan dijual seharga Rp. 900 juta oleh salah seorang warga setempat.

Asdianti Baso Direktur utama PT Selayar Mandiri Utama membantah akan kabar tersebut. Dalam klarifikasinya kepada media, Asdianti, menegaskan tidak ada jual beli Pulau. Dia menduga ada kesalahan infomasi yang selama ini beredar sehingga menimbulkan polemik.

“Saya selaku pembeli lahan kebun yang terletak di Pulau Lantigian. memang saya membeli Tanah, tapi bukan Pulau, dan tujuan saya adalah untuk membangun Water Bungalows di tempat kelahiran saya yaitu Selayar,” ujarnya Rabu (03/02/2021).

Asdianti mengungkapkan mengenai berita yang sekarang lagi on the news today and everywhere.

Lantigian sendiri terletak agak jauh dari dermaga, namun jika menggunakan speed booth memakan waktu sekira 90 menit namun jika menggunakan kapal ikan sekira 4 jam jika pulang pergi memakan waktu 8 jam.

Lantigian adalah Pulau yang tak berpenghuni saat ini karena tidak adanya air tawar dan listrik yang memungkinkan penduduk tinggal disana.

Melihat kondisi tersebut Asdianti yang selama 21 tahun stay di Pulau Bali dan bersuamikan pria asal Itali merasa terpanggil untuk mengembangkan pariwisata tanah kelahirannya. Ia pun memantau potensi pulau yang bisa dia bangun resort (bungalows) akhirnya mentok pada Pulau Lantigian yang masuk dalam zona pemanfaan, artinya lokasi pulau tersebut dapat dikelola untuk oleh masyarakat atau investor yang ingin mengembangkan sekaligus merawat Pulau tersebut.

Dian membeli lahan tersebut karena ada dasar surat kepemilikan dan didukung oleh Balai Taman Nasional Takabonerate namun belakangan dirinya dia digugat dengan mengadukan masalah tersebut pada PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara ).

“Ini ada apa? kok tiba-tiba berubah, tentunya jadi pertanyaan bagi saya. Untuk itulah saya mengadukan masalah ini ke PTUN, saya ikutin arusnya akhirnya saya menang di PTUN, timbullah statement yang menyudutkan saya di sejumlah media bahkan sampai ke Mapolda Sulsel kalau saya membeli Pulau padahal tidak seperti itu faktanya,” jelasnya.

Faktanya juga dari hasil kemenangan ini dalam menggugat, maka terbitlah izin lokasi, izin pertimbangan teknis, izin usaha, dan izin prinsip atas nama perusahaan Asdianti Baso yakni PT Selayar Mandiri Utama namun belum bisa membangun karena saya harus izin ke Kementrian Lingkungan Hidup untuk izin Amdal sambil menunggu sertifikat agar segera keluar izin membangun dari pihak perizinan.

“Saya kira ini niat baik saya untuk membangun Selayar, namun saya pernah meminta untuk menerbitkan Izin membangun Sarana Pariwisata Alam bulan Juni 2020 dan meminta pertimbangan teknis sejak dua tahun lalu untuk tanah saya di Area Latoundu Besar pada tahun 2017 namun lagi-lagi ditolak BPN untuk mengeluarkan sertifikat entah apa sebabnya,salah satunya karena berada didalam kawasa,” papar dia.

Diketahui juga sebelum ia membeli lahan, dia sudah pernah ke Balai Taman Nasional Taka Bonerate di tahun 2017 untuk berkonsultasi dimana Pihak Balai sendiri menyarankan untuk membangun pada Zona Pemanfaatan, karena di dalam Kawasan terdapat zona-zona yang berbeda. zona inti yang tidak bisa dibangun sama sekali.

“Karena pihak balai waktu itu menyarankan Lantigian, Pulau Belang belang dan Pulau lain tapi saya tertarik hanya Lantigian dan Latondu Besar,” paparnya.

Tapi kembali Asdianti selaku calon investor menimpali kalau misalnya pembangunan bakal merusak ekosistem laut lantas mengapa masuk dalam kawasan zona pemanfaatan?

“Saya bukan mau merusak di sana, tapi mengembangkan, dimana pelanggarannya? saya ingin membangun pariwisata Selayar agar dilirik dunia seperti Bali, saya tidak akan merusak lingkungan, justru merawat lingkungan, kita pelihara semua habitat di sekelilingnya. Dan memperindah yah seperti Ohen Resort yang ada di Selayar punya orang Jerman yang tinggal di Selayar itu dia rawat semua terumbu karang dan ikan ikan di sana. Dan ini yang menarik wisatawan nantinya,” pungkasnya.

Dia menjelaskan jika luas pulau tersebut sekitar 7 Hektar, sedang luas lahan yang dia beli diatas lahan tersebut sekitar 4 Hektar, sisanya dimanfaatkan dan kelola oleh masyarakat. (*)

7 Saksi Penjual Pulau Lantigiang Kepulauan Selayar di Periksa Polisi

Gambar Ilustrasi

Zonamakassar.com, Makassar – Polisi telah memeriksa tujuh saksi dalam kasus penjualan Pulau Lantigiang, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Salah satu yang diperiksa adalah pihak penjual pulau.

Sementara itu, saksi lainnya yang diperiksa adalah Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Jinato bernama Nur Aisyah Amnur, kepala dusun, hingga warga.

“Sudah ada tujuh yang diperiksa. Sisanya, penyidik akan mendalami keterangan saksi lainnya,” kata Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Temmangnganro Machmud dikutip detikcom, Sabtu (30/1/2021).

Temmangnganro menyebut hasil penyelidikan pihaknya mengungkap bahwa seorang warga berinisial SA telah menjual tanah di kawasan Pulau Lantigiang seharga Rp 900 juta ke perempuan berinisial AS. SA telah menerima uang muka senilai Rp 10 juta dari AS.

“Sudah ada panjar (uang muka pembelian tanah) Rp 10 juta, di mana panjar tersebut telah diterima oleh KS, keponakan SA,” kata Temmangnganro.

Temmangnganro mengatakan pihaknya masih akan mendalami keterangan sejumlah saksi lainnya, di antaranya kepala desa dan sekretaris desa, yang disebut terlibat dalam pembuatan surat perjanjian jual-beli pulau oleh SA dan AS.

“Penjualan tersebut memiliki surat keterangan jual-beli tanah Pulau Lantigiang yang dibuat oleh Sekdes Jinato 2015, yang diketahui oleh Kepala Desa Jinato 2015,” katanya.

Temmangnganro menyebut pihaknya masih akan terus melakukan pendalaman hingga kasus ini tuntas. Saat ini penyidik tengah mengumpulkan bukti dan menganalisis pihak yang dirugikan terkait penjualan pulau tersebut.

“Saat ini kami masih akan mengumpulkan bukti-bukti lainnya untuk menentukan pihak yang dirugikan terkait penjualan Pulau Lantigiang tersebut,” lanjutnya.

Pulau Lantigiang terletak di Desa Jinato, Kecamatan Bonerate, Kepulauan Selayar. Pengelola Taman Nasional Wilayah II Jinato menyebut masyarakat setempat tidak boleh memiliki tanah di Pulau Lantigiang karena berstatus dalam kawasan taman nasional.

Namun masyarakat disebut boleh terlibat dalam pengelolaan wisata karena Pulau Lantigiang merupakan zona pemanfaatan. Kawasan pulau tersebut memang telah disiapkan sebagai kawasan wisata.

Gubernur Resmikan Kapal Penumpang Takabonerate

Zonamakassar.com, Makassar – Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah meresmikan peluncuran Kapal penumpang Takabonerate, yang merupakan hasil rakitan PT Industri Kapal Indonesia (IKI) di kantor PT IKI jalan Galangan Kapal Makassar, Rabu (4/11/2020).

Penamaan kapal Bonerate, kata Gubernur Nurdin Abdullah diambil dari sebuah nama pulau terindah di Sulsel tepatnya di kepulauan selayar yakni pulau Takabonerate.

Kapal penumpang ini nantinya melayani rute pelabuhan Bira Bulukumba, Pelabuhan Pamatata Selayar, kell Laying Ferry Ro-Ro- 500GT Wakatobi, Kell Laying Kapal Patroli KPLP Kelas III.

Peluncuran KMP Takabonerate ini sekaligus sebagai rangkaian HUT PT IKI yang ke-43. (rls).